Kamis, 14 Desember 2017 

Kabupaten Mimika

Awalnya Mimika merupakan sebuah kecamatan dari wilayah administrasi Kabupaten Fakfak, berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 1996, Kecamatan Mimika ditetapkan sebagai Kabupaten Administratif, kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999, Mimika menjadi Kabupaten Otonom.

Kabupaten Mimika memiliki luas sekitar 20.039 km² atau 4,75% dari luas wilayah Provinsi Papua dengan topografi dataran tinggi dan rendah. Kabupaten Mimika sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Paniani dan Puncak Jaya, sebelah Selatan Laut Arafuru, sebelah Timur Kabupaten Merauke dan sebelah Barat Kabupaten Fakfak. Mimika didiami oleh tujuh suku, dua suku asli yaitu Amungme yang mendiami wilayah pegunungan dan Kamoro di wilayah pantai. Selain kedua suku tersebut masih ada lima suku kekerabatan yaitu, Dani/Lani, Damal, Mee, Nduga dan Moni. Luas wilayah kabupaten ini adalah 21.522,77 km2 yang terbagi menjadi 12 kecamatan dengan Timika sebagai ibukota kabupaten.

Timika mempunyai rata-rata suhu udara minimum di wilayah Mimika selama setahun 2006 sebesar 21,96°C.  Sedangkan rata-rata tekanan udara minimum di wilayah Mimika selama tahun 2006 sebesar 1.005.525 Mbs dan maksimum 1.015,42 Mbs.  Kelembaban udara dikabupaten mimika rata-rata sebesar 88,67% dengan kelembaban tertinggi pada bulan Juli.Curah hujan tertinggi di kabupaten Mimika tahun 2005 terjadi pada bulan juli yaitu sebesar 838 mm dan terendah pada bulan februari sebesar 192 mm.

Kabupaten Mimika yang beribu kota di Timika, terletak antara 134°31′-138°31’Bujur Timur dan 4°60′-5°18′ Lintang Selatan. Jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 150.753 jiwa (Mimika Dalam Angka 2006), yang terdiri dari laki-laki sebanyak 91.262 jiwa dan perempuan sebanyak 59.491 jiwa.

Kabupaten Mimika menjadi kabupaten terkaya di Provinsi Papua. Diawali dari sebuah pegunungan Ertsberg setinggi lebih dari 1.000 meter di atas hutan tropis Papua, tepatnya Kecamatan Tembagapura, tersembunyi kekayaan mineral yang sangat besar.  Potensi bahan tambang di kabupaten ini, untuk tembaga menjadi cadangan terbesar ketiga di dunia, sedangkan emasnya sendiri menjadi yang terbesar di dunia. Eksploitasi emas di kabupaten ini dilakukan oleh PT Freeport Indonesia. Masuknya perusahaan bermodal asing pertama di Indonesia membuka keterisolasian daerah yang dikelilingi hutan, perairan, dan pegunungan ini. Infrastruktur terbangun dengan keberadaan kota modern, lapangan terbang, pelabuhan laut, dan fasilitas jalan. Lapangan kerja pun cukup terbuka meski tidak seratus persen menyerap penduduk lokal. Kekuatan perekonomian Mimika sampai saat ini dan tahun-tahun mendatang sepenuhnya bergantung pada pertambangan. Setidaknya sampai kontrak karya kedua antara PT Freeport dan Pemerintah Indonesia berakhir, cadangan bijih tambang Gransberg 2.6 miliar ton di areal 202.950 hektar sanggup menggerakkan perekonomian daerah.

Hambatan Pelaksanaan Audit

Keamanan wilayah ini merupakan isu yang sering diangkat media massa karena di kabupaten Mimika sering terjadi pertikaian, baik pertikaian antar suku dan aksi pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Ini sangat tidak menguntungkan bagi Auditor. Banyak area-area yang disitu di tunggu oleh pihak Freeport, dimana saat masuk Auditor harus selalu menunjukkan surat tugas atau nametag. Sehingga harus bersifat resmi dan kaku.

Hambatan lain adalah tidak adanya mesin fax pada Kabupaten Mimika sehingga sulit melakukan pengiriman atau penerimaan pesan. Tim audit cukup banyak disulitkan karena perkara ini.