Jum'at, 31 Oktober 2014 

Kabupaten Puncak Jaya

Kabupaten Puncak Jaya dibentuk pada tanggal 4 Januari 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan lima kabupaten lainnya di Papua. Peresmiannya dilakukan oleh Mendagri Mardiyanto pada tanggal 21 Juni 2008. Kabupaten yang beribukota di Mulia ini memiliki luas wilayah 9.584 km².

Pegunungan di Puncak Jaya juga menghasilkan barang tambang yang cukup besar. Hasil tambang di Ertsberg, Grasberg di Puncak Cartensz yang terletak di kawasan Puncak Jaya tepatnya di Kecamatan Ilaga seperti tembaga dan emas diangkut ke Mimika untuk diolah lebih lanjut oleh PT Freeport      Indonesia.

Kabupaten ini sebagian besar terhubung dengan wilayah lain dengan angkutan udara dari Sentani (Kabupaten Jayapura), Nabire, Wamena dan Timika. Armada penerbangan komersial yang melayani Kabupaten Puncak Jaya terdiri dari empat perusahaan diantaranya Merpati Nusantara, Trigana Air Service, dan Mimika Air. Ada juga pesawat milik organisasi gereja yang beroperasi di wilayah ini yaitu Mission Aviation Fellowship (MAF).

Sarana transportasi udara menjadi salah satu peluang investasi di Kabupaten Puncak Jaya. Beberapa kecamatan seperti Mulia dan Ilaga sudah memiliki lapangan terbang perintis yang bisa dicapai dengan pesawat jenis Twin Otter atau Fokker.

Adanya sarana transportasi udara sebagai penghubung utama dan angkutan darat sebagai moda alternatif sangat membantu distribusi barang-barang pemenuh kebutuhan pokok yang tidak dapat diperoleh di Puncak Jaya. Sebaliknya, potensi dari Puncak Jaya pun dapat disalurkan dengan cepat ke wilayah Pegunungan Tengah seperti Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Yahukimo

Pertanian menjadi sektor yang berperan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Puncak Jaya terutama pertanian tanaman-tanaman bahan makanan dan perkebunan. Selama ini tanaman yang banyak diusahakan oleh penduduk setempat adalah jenis palawija seperti ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai. Ubi jalar banyak dijumpai di wilayah ini karena menjadi makanan pokok masyarakat asli yang masih menjadi mayoritas penduduk Puncak Jaya. Kabupaten Puncak Jaya juga memiliki potensi untuk pengembangan tanaman hortikultura terutama sayuran seperti kol, wortel, kentang dan buncis. Wilayahnya yang berupa dataran tinggi pegunungan juga berpotensi untuk pengembangan tanaman buah seperti apel, markisa, dan anggur.

Kabupaten Puncak Jaya juga memiliki perkebunan kopi dan teh. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi kedua setelah Kabupaten Jayawijaya. Lahan perkebunan kopi banyak ditemui di Kecamatan Fawi. Perkebunan kopi juga telah dikembangkan di Kecamatan Mulia, Beoga, Sinak, Ilu, Fawi dan Ilaga.